Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, June 19, 2018

Membatu

Mungkin kau hanya mau bergerak ketika tersengat listrik saja,
kau sudah membatu.
Hatimu sedingin besi yang tertampar angin.
Apa mungkin masih ada kata rindu yang terucap dari bibirmu itu?
Tidak,
sungguh aku ragu.
Biarlah seperti ini dulu.
Akupun enggan meladeni batu yang dingin sepertimu.
Tak baik pula berucap rindu,
sungguh tidak baik.
Kirimkan saja doamu.
Siapa tau Dia menyampaikan dengan romantis.
Meluluhkan hatinya yang membatu.
Seperti sebuah buku,
kaupun mempunyai lembaran kelam dalam hidupmu.
Sungguh,
berspekulasi tanpa membaca lebih jauh hanya akan membuatmu membenci buku tersebut.
Dalam membacapun,
tanggapan orang satu dengan yang lain bisa saja berbeda.
Terkadang buku itu hanya menjadi koleksi yang tersusun rapi tanpa kau selami.
Atau bahkan hanya buku usang berdebu yang termakan oleh rayap,
karena tak kuat kau buka kembali.

Sunday, November 5, 2017

AKU

Sepi, hanya dengan sepi ku berteman. 
Ya ya ya. 
Aku paham betul, rasa sakit ini berulang kali kurasakan. 
Dingin yang menusuk hingga tulang rusuk. 
Bukan ragaku yang kedinginan. 
Ia adalah hati. 
Hati yang telah mati.

Kusesap kopi pagi ini dengan syahdu, ah ada yang janggal. Tidak ada manis di cangkirku pagi ini. Ah sial. Air mata, lancang sekali kau mengalir tanpa seizinku. Teringat. Ya, teringat jelas hari dimana kau menyakitiku. Mengambil segalaku, menjadikannya tiada.

***

Wednesday, September 27, 2017

Hujan di Bulan September

Hi Dec, kita akan bertemu lagi.
Tahukah kau pertanda apa hujan itu?
Pertanda bahwa kau 'kan tiba.
Iya Dec, kamu.
Tidak lama lagi.
Kenangan-kenangan yang lama ku kubur akan segera bermunculan.
Ah, aku membencinya.
Tidak masuk akal.
Mengapa hal-hal tersebut harus terjadi padaku.
Seperti hujan, aku melihatmu.
Dari kejauhan, ku hanya bisa merasakan baumu

Thursday, September 14, 2017

Time Paradox

Pernahkah kau mendengar tentang paradoks? 
Paradoks bagiku adalah mencintaimu. 
Ya. Mencintaimu seperti time paradox yang menyiksa, 
berulang ulang aku menyerah,
tapi kau membuatku lelah. 
Kisah ini hanyalah kisah pendekku, 
yang selalu berhubungan denganmu. 
Terus dan terus.
Tidakkah kau sadar betapa ku ingin melupakanmu? 
Tidak sadarkah kau menyakitiku?
Baik, jika kau belum sadar. Aku maklum. 
Mungkin karena kisah ini kusimpan sendiri.
Kau, iya kau. Lelaki brengksek yang membuatku terkurung.
Ah, aku merasa sangat kasar tadi.
Maaf.
Tidak sepantasnya aku menyumpah.
Ya, ya, ya!
Tak apa kau datang,
Tak apa kau pulang,
Tak apa pula kau hilang.
Akulah pesakitan berulang yang kau ciptakan.

Thursday, August 31, 2017

Cahaya

Cahaya
Hai cahaya
Kau tau kenapa aku memanggilmu cahaya?
Melihat tawamu, sementara ini adalah alasan bahagiaku.
Melihat kelembutan matamu, adalah salah satu penenangku.
Melihat sedihmu, alasanku membahagiakanmu.
Melihat apapun tentangmu, sementara ini adalah alasanku untuk berjuang.
Kadang aku tak ingin kata "sementara" terucap,
akupun belum sepenuhnya percaya akan kata "selamanya".
Yang ku yakini adalah Takdir Allah
Dia telah mempertemukanku denganmu, sumber cahayaku.
Melaluimu,
Allah telah memberikan energi penghilang sendu.
Melaluimu,
Allah mengurai kusut dalam kemelut.
Melaluimu,
Allah memberiku cahaya.
Cahaya yang bersinar samar,
kemudian menerangi keseluruhanku.

untuk Cahaya ku
Tegal, 17 Januari 2017


Monday, July 24, 2017

Ruang Sepi

Ada ruang sepi diantara kita
ruang yang dingin
tidak, bahkan terlalu dingin
membuatku sukar bernapas
sepi
asing
hanya hangat yang terasa, dulu
kini, sepi menguasai

Friday, August 14, 2015

Hangat

Pagi, aku sangat menyukai pagi.
Kadang aku rela untuk terjaga hanya untuk melihat pagi
Aku yakin setiap gelap pasti akan menemukan terang
Malam pun tak akan terasa panjang
Tidak ada kegelapan yang abadi
Ketika malam berganti pagi,
Kau akan menemukan :
Senyuman indah di pagi
Kicau burung yang merdu
Wangi embun yang teduh
Matahari hangat yang menenangkan
Dan langit biru yang melengkapinya
Pagi itu menyengkan, kau tak perlu risau dengan masalah malam ini karena esok akan menemui pagi.
Pagi akan membuka lembaran baru dibuku kosongmu
Pagi akan memberimu keceriaan
Tuhan, terima kasih atas pagi-Mu
Segala puji syukur kupersembahkan pada-Mu, Ya Allah

Wednesday, December 3, 2014

Buku adalah Wanita



Buku adalah Wanita

Oleh Naura dan Tiwi

October 25, 2009 at 10:03pm


"ada sebuah buku..


buku itu berada di antara buku-buku lainnya yang tertata rapi di sebuah rak besar yang menyimpan beberapa puluh buku, serta jutaan lembar rahasia pengetahuan

diam membisu tetapi menarik sepertinya

sampulnya yang bersih serta lembaran yang terhempit rapi diantara pembatas buku, membuatnya menjadi semakin menarik


mengapa tidak? buku itu masih baru


harum pabriknya masih tercium

hingga takut untuk membacanya


akankah ada yang berani untuk membukannya, apa malah sebaliknya banyak orang yang berdatangan untuk mengetahui apa isi buku tersebut..


mungkin bila aku menjadi orang tersebut aku akan mencoba untuk mengenal lebih dulu dan membaca kronologinya, karena aku pribadi tidak terlalu yakin akan keistimewaan buku itu


seperti pribahasa orang yang melihat sampul luarnya saja, belum tentu dalamnya itu menarik. malah buku yang sederhana, ringan, dan sampul yang biasa-biasa saja, didalamnya berisi sejuta kisah kehidupan yang menarik dan bagus buat kita"


seperti itulah kita, sebagian besar hanya melihat luarnya saja tanpa memperdulikan apa isi dalamnya. kita buta akan keindahan rupanya.


Terutama dalam menyukai seseorang, mengapa secara tidak sengaja fisik yang kita lihat, mengapa kita tidak mencoba untuk melihat isi dalamnya tanpa memperhatikan luarnya.

Tidak adil bagi orang tersebut cinta tidak hanya di rasakan oleh orang cantik saja. Orang jelek, orang miskinpun perlu cinta.

Dalam mencari temanpun seperti itu, kita hanya mendekati teman tersebut apabila dia cocok dengan kita ,atau dia famous dan lain lain. Tidak seharusnya begitu, kita harus mencoba dan utamakan isinya,bukan luarnya...

Monday, September 29, 2014

Sepi..

ketika seseorang dihadapkan oleh sepi, 
sepi yang mengiris-iris waktu.
Sepi, sepi hanyalah tinggal sepi. 
Kesepian hanya membuat seseorang terbelenggu pada pikiran yang ruwet, 
berkutit pada masalah yang semestinya tak ada. 
Mengeluhlah kau sepi, kau racuni kami kaum sepi.
Mengapa kau hanya mengundang lipatan kesedihan?
Mengapa guratan sepi begitu menjalar tubuh ini?
Sungguh, kesendirian hanya mengundang sesal.

Tuhan, aku mengeluh pada waktu-Mu.
memohon agar berbaik hati padaku,
sungguh tidak ada yang bisa membantu selain waktu-Mu, Tuhan.

Tuesday, July 15, 2014

Masih pantaskah?

Hi, ingin rasanya kembali menyapa dunia
Dunia yang selalu sibuk dengan kepalsuannya
Ditengah hiruk pikuk kehidupan
Mencari makna tentang keadilan
Mengapa? Mengapa?
Terkadang benakku muncul pertanyaan
Saya hanya ingin menempuh pendidikan
Bukankah setelah RA. Kartini hadir, kami layak berpendidikan?
Lalu? Semua itu hanya isapan jempol
Miris bukan?

Masih pantaskah aku duduk diantara mahasiswa?
Masih pantaskah aku?

Kadang saya rindu, rindu untuk mendengarkan, bercanda, mengantuk, bahkan membolos. Lebih menyakitkan kau berhenti menjadi terdidik, dibandingkan mencintai tanpa dilirik.

Tuesday, March 25, 2014

Tuhan, aku mencintai-Mu

Tuhan, aku mencintai-Mu
Tuhan, aku tahu kau maha mengetahui
Tuhan, aku berterima kasih atas segala yang Kau lakukan untukku
Tuhan, cubitan demi cubitan dari-Mu membuatku sadar akan kebesaran-Mu
Tuhanku, ya Allah terima kasih atas rahmat dan hidayah-Mu

Tuesday, August 27, 2013

Berteman Bayangmu..

aku disini..
menunggumu, meski pertemuan kita singkat.. 
aku masih ingat, pertama kali kamu menyapaku.
aku ingat kau selalu menghampiriku yang duduk sendiri di bangku itu 
dan aku ingat ketika kamu bercerita tentang orang yang kau suka, 
dan orang itu bukan aku.
awalnya aku menganggapmu sebagai pengganggu, 
wajahmu bukan tipeku, 
dan semua yang berhubungan denganmu berbeda denganku, 
bahkan, kau menyukai orang lain. 
namun, siapa sangka aku akan ...
menyukaimu..
dulu, aku selalu duduk dibangku itu, 
walaupun sekarang aku tidak bisa duduk di bangku yang sama lagi.
tapi aku masih menunggumu, 
sampai sekarang..

Wednesday, July 10, 2013

Sajak Hujan

Sore ini aku terbangun dari tidur siangku. 
Terdengar rintikan hujan, 
seperti biasa hujan selalu menenangkanku 
tetapi kadang juga menyulut emosiku.
Aromanya, suaranya, suasananya, sejuknya.. 
Aku suka hujan, suka sekali. 
Ada yang aneh dengan hujan kali ini, 
entah mengapa semua masa lalu..
yang telah kupendam selama tiga tahun tiba-tiba meluap. 
Kamu, ya kamu. 
Orang pertama yang membuatku hilang arah tiba-tiba menyapaku di twitter.
Tanpa terasa senyumku terukir manis di ujung bibirku, 
aku bahagia. 
Aku pikir aku sudah melupakanmu, 
tetapi aku salah setiap kali aku mendengar namamu...
hati ini terasa sakit, napasku tercekat seketika. 
Dan setiap kali kau menyapaku, 
aku merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia ini. 
Wajar saja, kau, hujan, cinta pertamaku.
Sama setiap hujan datang, 
napasku menjadi tidak beraturan, 
suasana sejuk dan nyaman selalu ada, 
tetapi adapula perasaan was-was. 
Apabila hujan ini suatu saat melukaiku,
 lalu apa yang akan kulakukan? 
Meskipun kau sudah berulang kali membuatku menangis, 
aku tetap saja tersenyum jika kau menyapaku. 
Apa aku salah? 
Tuhan, aku mencintainya. 
Aku sangat mencintainya, 
tidak berubah sedikitpun. 
Meskipun dia tidak bersamaku, tetapi dia, 
dialah orang pertama yang menyadari keberadaanku.
Dia, hujan.. 
Keduanya selalu membuatku pilu, 
seusaha mungkin lepas dari bayangannya, tetap saja aku lemah. 
Aku lemah terhadap hujan, 
hujan pula yang menguatkanku. 
Bagaimana mungkin aku pergi dari bayangannya, 
jika 3 huruf terucap darinya bisa mengembalikan ingatan yang ..
terkubur tiga tahun lamanya? 
Aku merindukannya, ya Allah.. 
Lelaki itu, aku sangat ingin bertemu dengannya. 
Aku tahu hujan tidak pernah sendiri, ada petir, ada guntur, 
mereka berdua adalah kekasihmu yang setia.
Karena itu, aku takut, aku takut sekali menyentuhmu. 
Aku takut kelembutan dan kenyamananmu akan berakhir melukaiku, 
aku belum siap terlukai lagi. 
Mungkin lebih baik aku mengawasimu dari sini, dari dalam rumah, 
agar kau tidak melukaiku lagi. 
Sesungguhnya aku ingin keluar dan berlari-larian di halaman, 
menikmati kehadiranmu, 
menikmati aromamu, 
tetapi duniamu bukan duniaku.
Depok, 17 Mei 2013