Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, September 8, 2018

Harumkan PHB Melalui Keindahan Karya Sastra

Hajar Intan Pertiwi dinobatkan sebagai Juara Harapan 1 di UPS Tegal


Hajar Intan Pertiwi (24) kembali meraih prestasi untuk Politeknik Harapan Bersama (PHB), atau biasa disapa akrab dengan Intan. Mahasiswa Program studi Teknik Komputer, yang dinobatkan menjadi Juara Harapan 1 Tangkai Tulis Cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah (PEKSIMIDA) Jawa Tengah 2018 yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia. Setelah melalui proses seleksi yang ketat dan bersaing dengan 26 universitas se-Jawa Tengah, akhirnya Intan berhasil mendapat predikat Juara Harapan 1 2018. Acara yang berlangsung di Universitas Pancasakti Tegal pada tanggal 11 Agustus 2018.

“Tradisi lisan mudah hilang dalam ingatan, sebaliknya tulisan akan selalu abadi sepanjang masa. Kegiatan menulis sangat berguna, terutama dalam mendokumentasikan sesuatu, entah kisah hidup, kisah spesial yang dianggap perlu dikenang selamanya, hingga peristiwa sejarah” ujar Intan, yang juga aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tampaknya akan menjadi penerus sastrawan Tegal.

Intan lebih suka menulis tentang kearifan lokal dan budaya di daerahnya. Salah satu contoh cerpen yang pernah ditulis dan mendapatkan prestasi yaitu cerpen yang mengangkat cerita tentang Sintren dan Nelayan.

Intan pada tahun 2016 mendapat penghargaan sebagai Juara 1 tingkat PHB, dan ia jadi delegasi tingkat provinsi, kemudian mendapatkan Juara 3 PEKSIMIDA Jawa Tengah. Ia mengangkat tulisan tentang kearifan lokal Tegal yaitu Sintren, merupakan salah satu bagian budaya atau kesenian yang pernah ada di Tegal dan perlu di lestarikan.

Tahun 2018, Intan mendapatkan Juara 1 tingkat PHB, dan ia menjadi delegasi tingkat provinsi lagi dengan tulisan yang bertema Kearifan Lokal sebagai pemersatu bangsa. “Saya lebih suka menulis tentang isteri nelayan yang berjuang melawan kemiskinan, kisah yang berlatar di pesisir, kisah yang penggambaranya di Muarareja. Tetapi kisah-kisah nelayan jarang di mediakan, padahal nelayan bagi saya profesi yang menginspirasi yang perlu di ketahui media,” ujarnya.

Gadis yang juga lolos Kelas Cerpen Kompas 2018 ini sempat kebingungan menentukan alur cerita, namun dengan optimis ia mengambarkan sosok nelayan. “Saya yakin, kisah nelayan yang saya tulis ini akan bermanfaat khususnya dalam khasanah cerpen.
Pada akhirnya keindahan akan mengasah empati, untuk turut merasakan dan berbuat bagi orang-orang yang sedang kesusahan
Menara Kompas
Hajar Intan Pertiwi
Lahir: Tegal, 02 Desember 1994
Pendidikan: Program Studi Teknik Komputer Politeknik Harapan Bersama
Karya:
– Cinta Dalam Diam (Cerpen - 2016 - Mata Kampus)
– Twisted Friendship (Cerpen - 2016 - Juara 1 Peksima PHB)
– Selendang Sayyida (Cerpen - 2016 - Juara 3 Peksimida Jateng)
– Rujak Uleg (Cerpen - 2017 - Mata Kampus)
– Perahu Ubay (Cerpen - 2018 - Juara 1 Porseni PHB)
– Isteri Lelaki Garam (Cerpen - 2018 - Juara Harapan 1 Peksimida Jateng)

Penghargaan:
– Juara 3 Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah Jawa Tengah 2016.
– Penghargaan dari Politeknik Harapan Bersama Tahun 2016.
– Juara Harapan 1 Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Daerah Jawa Tengah 2018.

Thursday, June 14, 2018

Perahu Ubay

Perahu Ubay
Karya Hajar Intan Pertiwi

Di pantai. Susmitha lari-lari kecil. Deburan ombak mengajaknya bermain. Kaki kecoklatannya terbenam di antara pasir, sesekali ombak menyapanya. Angin bersiul mengajaknya menari. Rona merah senja memantulkan sinarnya di pipi Susmitha. Tetapi wanita berkulit coklat itu masih saja tertunduk. Sesekali dia mengangkat wajahnya dan melihat senja. Ah! Butiran-butiran air mata itu mengalir lagi, di sudut matanya. Dia mengelus perutnya sembari menitikkan air mata. Ah si Jabang! Bagaimana masa depanmu nanti? 
Susmitha hilang!

Thursday, January 4, 2018

Rujak Uleg

Rujak Uleg
Oleh Hajar Intan Pertiwi

Sepiring rujak uleg yang tersaji di meja makan, makanan sedap dengan selera pedas gurih dari perpaduan sayuran segar dan bumbu saus kacang pedas adalah rujak uleg atau juga sering disebut dengan rujak cingur. Sudah coba mencicipinya? Kombinasi yang menggiurkan.
Pedas dan gurih bergejolak di lidahku, ditambah manis asamnya pisang klutuk. Rujak uleg ini adalah menu makan siang wajib sekurang-kurangnya tiga hari dalam seminggu. Bi Ijah penjual rujak uleg di depan kantor tempatku bekerja sudah membuat rujak uleg selama 25 tahun, rujak uleg ini mengiringi getir manisnya kehidupan Bi Ijah.

Friday, August 25, 2017

Selendang Sayyida - Hajar Intan Pertiwi

Selendang Sayyida
Oleh Hajar Intan Pertiwi

            Sayyida duduk termenung di pinggiran bebatuan pesisir pantai. Ia menatap langit. Mungkin menatap terik sang surya yang mengajaknya untuk sekadar berenang di pinggiran pantai, mungkin pula memandangi Gunung Slamet yang berdiri dengan gagah. Kekecewaan berujung luka yang sering ia alami. Butiran-butiran air mata mengalir di sudut-sudut mata indahnya. Gelombang laut memuntahkan riak di bibir pantai. Ia membiarkan kaki halus kecokelatan tak beralas tertanam di antara pasir, sesekali air laut menghampiri, mengajak dan merayunya untuk bermain. Selendang di lehernya menari-nari, seolah ingin dimainkan.

Monday, February 20, 2017

Merindu

Pantai, ya benar! kemana lagi kalau bukan pantai? Melihat senja bercumbu dengan laut adalah suatu hal yang kusenangi. Kepalaku terobsesi dengan kisah cinta yang berakhir bahagia, dongeng-dongeng yang utopis. Termasuk kau, iya kau. Kau tahu bukan? Aku menyukaimu Langit, teramat-sangat. Terangkai indah begitu jelas tentangmu di kepalaku, segala ingatan tentangmu aku kenang.
Ah sudahlah, berhenti mengkhayal. Ingat mimpimu, ingat sudah berapa tahun kau menjalani hidup. Kau bahkan tahu betul, semua khayalan kekanak-kanakanmu tentang Langit pasti kan ditertawai olehnya.
"Senja, sedang apa kau? Menyendiri dengan sepi, apa kau gila?" Seru Langit pada senja.
"Diam kau, sudah berapa lama kau disana? Tidak ada sopan santun."

Hai, entahlah itu bagian dari cerpen Langit dan Senja. Dari dulu ingin punya tokoh utama yang bernama Langit dan Senja. Kaku banget ya? sudah lama tidak menulis hehe.. Mungkin aku akan mengisi Wattpad ku, jadi tunggu saja ya..

untuk kau yang selalu kurindu, kelak kau akan mengerti betapa aku memikirkanmu disetiap waktuku. menyapamu melalui doa adalah hal yang bisa kulakukan.

Saturday, April 23, 2016

Twisted Friendship

Cerpen yang menghantarkan saya sebagai juara 1 di PEKSIMA kampus :)
Twisted Friendship
Oleh Hajar Intan Pertiwi
           
Setiap manusia pasti pernah merasakan apa itu kekecewaan, sungguh sakit sekali rasanya. Aku, Minami Permata, salah satunya. Sayangnya, akulah penyebab kekecewaan itu. Matahari sore perlahan mulai tenggelam, awan kelabu menghiasi atap rumah sakit. Rintik hujan perlahan turun membasahi tanah yang kering. Saat itu kejadian duka menimpa sahabatku, Riska, mengalami kecelakan yang disebabkan olehku. Riska, maafkan aku. Andai aku lebih memperhatikan perasaanmu.
Pertemuan kami terjadi sekitar lima tahun yang lalu, tidak ada yang pernah menduga kapan pertemuan akan terjadi bukan?

Friday, August 7, 2015

daytime moon ? is it possible?

Bulan di langit biru? Aku pernah melihatnya, indah meskipun hanya samar-samar terlihat. Aku selalu melihat langit, entah malam maupun siang. Selalu, langit selalu mempunyai keindahan tersendiri.
Apa yang terjadi ketika bulan jatuh hati pada Langit biru? akankah Langit biru membahagiakan, atau mungkin membawa kesedihan? entahlah, jodoh ditangan Tuhan. Mana tahu kita, perumpamaan Langit dan Bulan adalah hal yang biasa dialami manusia, persamaannya adalah mereka ciptaan Tuhan, hanya saja ada perbedaan yang membentang.

Monday, July 13, 2015

Daytime Moon

Langit, aku sangat munyukai Langit. Warna yang berubah-ubah, menawarkan sendu ketika mendung, memberi kehangatan ketika fajar, menyemangati dalam terang, menenangkan dalam senja, Langit melukiskan berbagai emosi di dalamnya. Kenanganmu seperti Langit bagiku, selalu ada meskipun aku bersembunyi sekalipun. Ketika melihat Langit, bias bias cahaya itu seolah memantulkan rona wajahmu yang gembira. 

Hai, apa kabar Langit? Ini aku Bulan, masih ingatkah kau padaku? Aku ingin bercerita sedikit tentang Bulan yang mencintai Langit, tentang cinta yang tidak dipersatukan, tentang perasaan yang terluka. 

"Bulan sedang apa kau?" tanya Lintang, sahabatku.

"Ah tidak Lintang, aku hanya sedang merenung. Apa bisa Bulan muncul saat Langit sedang berwarna biru? Apa bisa mereka berdampingan?"

"Aku tak mengerti Bulan, kau bicara apa? Kau.." kupotong sebelum Lintang menyelesaikan kalimatnya. Karena aku tahu apa yang akan dia katakan, dia pasti tahu aku memikirkan Langit, seseorang yang pernah hadir dalam hidupku.

"Tidak, tidak hahaha." Tawa getirku, Lintang terdiam, Ia tahu bahwa aku tidak ingin membahasnya lagi.


Orang bilang, ketika seseorang jatuh cinta, ia dengan mudah menuliskan delusinya kedalam sebuah karangan. Belum lagi ketika orang patah hati. Aku bukan kedua-duanya. Aku orang yang cukup datar, hanya menulislah yang aku jadikan pelampiasan kegelisahanku. Meskipun orang bilang tulisanku tak bernyawa. Tapi sangat jelas aku pernah mencintai orang dengan parahnya. Mengapa aku sebut parah? Karena dia seperti influenza, betapapun kamu sembuh, ia akan datang disaat terlemahmu. Dia juga seperti Langit, yang selalu membuatmu melihatnya meskipun kamu enggan. 
Sudah dua tahun setelah pertemuan kita, Langit. Aku harap kau baik-baik saja disana.  


 ---

Malam ini aku melihat potrait wajahmu di sosial media. Dan seperti yang kuduga, itu sudah dapat mencengkram hatiku meskipun hanya potrait wajahmu yang kulihat. Berkat kamu aku jadi tidak bisa tidur. Aku teringat akan suaramu yang selalu menemaniku ketika aku terjaga di malam hari, aku teringat tawa riangmu, berkatmu aku tidak merasa sepi di malam hari. Namaku Bulan, kadang aku merasa kesepian, kegelapan di malam hari selalu membuatku sepi, meskipun aku tahu Lintang selalu ada untukku.

"Aku ada disini, jika kau butuh aku, Bulan." Itu yang selalu Lintang katakan.


Pagi ini aku duduk di bagian belakang rumahku, disini aku bisa melihat Langit biru sesuka hatiku. Dan wajahmu terbayang seketika, meskipun aku enggan melihatmu. Menyebalkan bukan? Langit biru yang hangat ini, menghembuskan sedikit angin dingin pagi, aku tidak benci itu. Aku suka, suka sekali.
You're just like a light to me, a hero that saved me from darkness. Even though you don't resemble light at all, but you are light to me. Thank you. 

Hi sky, you are bright as usual. Very sparkling. Aku tahu kau memang jauh dari jangkauanku, sangat jauh. Dan aku enggan berada di dekatmu, di dekatmu aku jadi merasa bukan aku, konyol sekali kan? Jadi aku memutuskan untuk menjauh, menjadi orang asing yang memantaumu dari bawah sini, sedangkan kau terus terbang jauh diatas sana, Langit. 
Suatu saat jika aku siap, aku ingin menemuimu, aku ingin minta maaf karena sifatku yang kekanak-kanakan dan terus menjauhimu. Aku juga ingin berterimakasih atas segala kebaikanmu, and thanks to you i love the way i am now.

Tuesday, July 15, 2014

Western Restaurant

Mereka membawa saya ke sebuah western restaurant, setelah berhasil menculik saya dari kampus. Sebuah restaurant yang sangat mewah, bahkan selama saya hidup, menginjakkan kaki di restaurant tersebut adalah sebuah mimpi. Balkon itu, sangat romantis, membayangkan Sora membisikkan kata-kata manis. Lampu itu, berdansa dengan Sora layaknya putri raja dengan alunan musik Waltz. Setiap sisi restaurant itu sangat menyilaukan. Indah sekali.
Sebelum itu saya diajak ke sebuah salon ternama di Tokyo, bahkan mereka mengajak saya ke butik. Rambut saya dikepang renggang dari atas menyamping, dengan beberapa helai rambut dan poni samping terurai layaknya putri jasmine dikerajaan 1001 malam. Gaun putih tanpa lengan selutut dibalut oleh bahan chiffon yang terlihat simpel dan elegan. Entah apa di pikiran mereka, pria-pria bertampang yakuza itu menyeramkan.

Saya terkejut, bahwa Sora sudah menunggu saya di depan pintu restaurant itu, mengenakan tuxsedo berwarna hitam pekat, sebuah dasi berwarna hitam melingkar dilehernya yang indah, badannya yang seksi dibalut kemeja berwarna putih. Matanya yang hitam pekat itu merasuki seluruh jiwa dan raga saya, seakan merayu saya untuk memeluknya. Saya seolah ditarik oleh medan magnet dimatanya, saya berjalan pelan dan mendekatinya.

"Selamat malam tuan putri."
"Kamu..."
"Hari ini hari yang spesial, aku tahu pasti banyak hal yang ingin kau tanyakan."
"Iya.."
"Simpan pertanyaanmu sayang, kau sangat cantik."
"....terima kasih."
Pipi saya merona mendengar perkataan Sora yang nyaris berbisik, suaranya yang dalam dan menghanyutkan itu merasuk, merasuk ke seluruh tubuh saya. Sora menggenggam jemari tangan saya, lalu beranjak menuju western restaurant itu. Disana terlihat keluarga yang sangat apik seperti lukisan kerajaan.

Thursday, May 22, 2014

ulasan cerpen

Assalamualaikum
My posts related to my latest short story "Cinta dalam diam" fuaaaah..
Being a full-time worker is not easy, very tiring. Moreover, a new young entrepreneurs in the business of restaurant Padang, after my parents be fooled by the previous manager. The previous manager leaving debts and losses which make us difficult to eat.

Jadi, mau merevisi tulisan saja selalu lupa atau terlalu lelah, padahal ya belum tentu ada yang mampir blog saya haha.. Well, that's okay, even there isn't visitor that visit my blog. I can't stop writing, because it's my hobby and someday I'll be the one who the name will be next to Raditya Dika or Alberthiene Endah and the other famous writer.

Okay, sekarang membahas tentang cerpen saya. Saya menggunakan nama Jacob Black sebagai pemeran prianya, karena dia ... ah susah dijelaskan haha. Tidak bermaksud meniru atau apapun, hanya saja.. Well, I'm the biggest fan of him, OMG he is so hot LOL.. Iya, dia keren dan keren dan keren dan keren dan sekali lagi sangat keren. I love his tanned skin, his sweet smile, so good to me, so right. Oh I guess it's Taylor Swift's song haha. And what I love more about him is his asian face, okey maybe it's my own opinion.

Sebenarnya, muka dia seperti Indian Indian gitu, padahal kalau lihat di wiki dia malah berdarah campuran, Harry Potter kali ah haha.

Ya, intinya saya berharap cerpen "Cinta dalam diam" ini suatu saat dapat menjadi novel, karena ini adalah project yang saya persiapkan matang dari jauh hari. Dan ceritanya benar-benar beda, dan bukan sad ending like usual, everyone is happy. Oke saya rasa saya seperti orang alay yang tulisannya campur inggris dan indonesia, sebelum lebih alay mari kita akhiri post ini :3

Oh iya, mungkin bahasanya agak kaku, karena saya masih terus belajar dalam berkarya hehe.
syukron 
Wassalamualaikum

Friday, March 21, 2014

Cinta dalam diam

Hai nama saya Nami, saya adalah seorang murid SMA biasa yang sedang dalam masa puber, wajar saja jika hormon ini mengantarkan saya untuk menyukai kakak kelas saya, Jacob Black, biasa disapa Jake. Dia kelas 12, saya menyukainya sejak kelas 10, lebih tepatnya hanya mengagumi dari jauh. Dia adalah teman kakak saya, orangnya baik, sangat baik.

Entah mengapa perjalanan cinta saya tidak semulus tokoh fiksi yang saya baca di novel maupun manga, padahal saya sendiri tumbuh di negara yang terkenal dengan cerita fiksi yang imajinatif, yaitu Jepang. Banyak hal yang ingin saya ketahui, apa itu cinta, bagaimana rasanya dicintai, aaaa membayangkannya saja sudah membuat saya malu hehe.


Wednesday, December 28, 2011

One Sided Love


"Aaaa I was stalking over him again" gumamku lirih.

"Apaan sih? Pagi-pagi berisik banget." usik Mita.

"Oh I see, you took his picture again, didn't you?" tambahnya.

(aku mengangguk)

"Ayo bilang aja nih ke dia, toh dia kan baik." ucap Mita menyemangatiku.

(aku hanya menggeleng cepat)

"Apa salahnya si nyoba? Toh kalo ditolak, paling nangis." ucap Mita cuek.

(#jleb aku menunduk)

"Aku kaya ngomong sama tembok ya. Ayolaah you have to be strong, just confess to him that you fall inlove with him." paksa Mita.

"It's not that easy." jawabku singkat.

"It's easy, just try it! If he dare to reject you, I will kill him."

"Jangan gitu, aku gak mau pertemanan kita berakhir gitu aja ta." aku hanya menggeleng.

"Terus? Kamu mau selamanya kaya gini?" ucap Mita kesal.

"Ta, ini yang terbaik." ucapku sambil tersenyum.

"Senyum dusta!"

"Udah ah, gak usah dibahas. Lagi pula, dengan melihatnya aku sudah merasa bahagia." ucapku setengah bergumam.

"Eh, itu dia. Panjang umur banget ya." ucap Mita sebal.

"Ayu! Kemana aja sih!" Sahut laki-laki bertubuh jangkung itu ketus.

"Mana tata krama mu." Jawab ku sebal.

"Ini fotokopiannya. Makasih ya Ayumi." aku yakin dia mengucapkan itu sambil tersenyum.

"Jaa ne!" Ucap laki-laki berkulit coklat itu sambil melambaikan tangan dan pergi.

Aku dan dia tidak pernah akur, selalu bertengkar. Namun, cuma dia yang bisa membuatku tertawa, yang bisa membuatku menjadi diri sendiri. Aku menyukainya, tetapi ia telah mempunyai kekasih.

"cih!" jengkel Mita.

Mita anak yang baik, selalu membantuku saat tersesat dalam belenggu kehidupan ini. Dia agak kasar, blak-blakan, dan cuek. Namun demikian, dia tak bisa melihat orang lain kesusahan.

"emh?" gumam ku kebingungan.

"selamanya mau gituu ya ?"

"I don't have another choice."

"ayumi.. Ka..uu..!!"

Mita nampak kesal padaku, tetapi ia lelah dengan sifatku yang keras kepala nan lemah ini. 'maafkan aku Mita, aku juga tak ingin seperti ini' batinku.

Bel pun berbunyi, sepertinya tidak ada tanda-tanda guru masuk kelas. Aku meliriknya, dia adalah Kira Yamada. Lelaki yang sekelas denganku ini rambutnya lurus dipotong pendek, poninya yang berantakan jatuh ke alis. Namun, terlihat rapi. Lelaki yang menurutku memiliki senyum paling indah di dunia setelah ayahku ini pintar bermain biola. Hampir tak ada celah, mungkin ini hanya sudut pandangku saja. Dia pintar dalam semua mata pelajaran, terutama matematika. Aku sering bertanya padanya, hal itu dikarenakan matematika adalah kelemahanku. Entah mengapa dia malah sering pinjam catatanku.

Nilai ulangan akhir semester ganjil dibagikan hari ini, ya Allah aku harus bagaimana? Aku tidak begitu yakin dengan kemampuanku. Aku masuk jurusan IPA, sedangkan nilai eksak ku pas-pasan. Andai aku bisa mengulang waktu, aku ingin masuk jurusan bahasa.

Aku seorang gadis berusia 16 tahun, namaku Ayumi Shigure. Mama Papa ku bernama Chiaki dan Akira Shigure (baca: pertemuan singkat dan Akikaze). Mama ku bercerita, dulu cinta pertama Mama meninggal. Lalu, dalam keadaan depresi yang sangat berat Mama bertemu Akira Shigure, Papa ku. Papa ku tiba-tiba datang sebagai murid baru, tingkah lakunya seperti cerminan cinta pertama Mama. Hati Mama perih, tetapi merasa "Langit Musim Semi" itu hadir lagi dalam kehidupannya. Suatu saat, Papa mengatakan yang sejujurnya, bahwa ia adalah sahabat cinta pertama Mama, awalnya ia cuma ingin menguji Mama. Namun, cinta tumbuh di hatinya, ia pun menyatakan perasaannya dan meminta Mama melihatnya sebagai "Akira" bukan "Sora". Mama menangis galau, dan akhirnya menerima cinta Papa. Selesai kuliah mereka menikah. Dan lahirlah bayi mungil yang tak berdaya. Bayi itu adalah aku.

Aku tidak ingin memiliki cerita cinta seperti Mama yang begitu pedih. Namun, aku ingin mendapatkan lelaki sehebat Papa ku yang bisa membuat senyuman Mama kembali. Walaupun perjuangan Papa berat, ia tetap memperjuangkan Mama.

Ponselku bergetar, ternyata ada pemberitahuan dari twitter. Belakangan ini aku dekat dengan salah satu teman twitter ku, namanya Satoshi, ia sangat baik, dan berpendidikan. Sampai akhirnya kami bertukar nomor ponsel. Sebenarnya ini hanya alih-alihku supaya Kira sadar bahwa aku juga bisa membuatnya cemburu.

Kami, aku dan Satoshi, sangat akrab. Kami beberapa kali berjanji untuk bertemu, tetapi aku selalu mengacaukan semuanya. Aku yang sangat pemalu saat bertemu orang baru pun menjadi salah satu penyebab utama kegagalan "kencan" kita. Mungkin tidak bisa dibilang kencan, soalnya kami belum jadian, walaupun dia menyatakan berkali-kali bahwa dia menyukaiku. Entah mengapa, aku sulit menerimanya, aku pikir ini semua terlalu cepat, bahkan belum ada sebulan kita berteman.


-bersambung-

Sunday, December 11, 2011

Akikaze, Kisah yang dipertemukan kembali oleh Takdir

Aku membuka buku diary usang itu lagi, berapa kalipun kumembacanya, ia tak akan pernah kembali. "Langit musim semi" ku telah pergi, pria bernama Sora Haruki itu takkan kembali. Mengapa takdir mempersingkat pertemuan kita? Satu hari yang sangat berharga, itulah yang selalu kukenang. Pertemuan dan perpisahan dalam satu hari, bolehkah kau mengulang pertemuan itu, Tuhan? Berkali-kali aku meminta ia tuk kembali, tetapi Tuhan berkata lain. Langit yang cerah dan penuh kehangatan itu tak bersamaku lagi. Sekarang musim gugur, entah sudah berapa musim kulalui. Namun yang kuingat hanya musim semi yang kelabu. Musim yang membuat kenangan dalam satu hari, yang mempertemukanku pada seorang pria dan yang memisahkanku dengan pria itu. Pagi ini adalah awal musim gugur, dingin sekali. Aku malas berangkat sekolah.

"Chi, sarapanmu sudah siap. Ayah membuat pan cake kesukaanmu Chi." ucap ayah sambil memasuki kamarku.

Aku hanya tersenyum. Lalu mengangguk.

"Kau tidak enak badan ya?" tanya Ayahku, seorang ayah yang harus menjadi ibu sekaligus ini sangat luar biasa.

"Aku tidak apa-apa, yah. Tunggu aku di meja makan, aku akan bersiap-siap." Jawabku sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.

"Baiklah. Ayah akan membuatkan roti panggang."

Aku hanya membalas dengan senyum. Walaupun aku terlahir di keluarga broken home, bukan berarti aku menjadi orang yang tak beruntung. Kedua orang tuaku juga tidak ingin bercerai jika bukan karena keadaan. Ibu ku telah menikah lagi dan bahagia, sedangkan kakakku kuliah di Amerika. Aku senang mereka telah bahagia, dan aku cukup bahagia dengan Ayahku. Namun, kadang aku berpikir, "apa ayah tidak kesepian?". Aku mengurungkan niat untuk bertanya demikian. Aku takut menyakiti Ayah nomor satu seduniaku.

Setelah berganti pakaian, aku menuju ruang makan. Di sana terdapat meja kayu berbentuk persegi panjang, terdapat empat kursi. Namun, hanya dua kursi yang selalu kami pakai. Terkadang aku berkhayal, "Apa kita bisa kembali seperti dahulu? Duduk berempat, bercanda, tertawa. Saat-saat bahagia itu akan kembalikah?"  . Aku sadar itu hanya bayangan semu yang kuciptakan dengan imajinasiku, dan semua yang menghilang tak akan pernah kembali lagi. Kecuali ada yang menggantikannya. Aku tak akan pernah mau, jika Ayahku menikah lagi. Karena bagiku, Ibuku adalah segala-galanya. "Lalu, bagaimana dengan Ayah? Dia berhak bahagia, bukan?" pertanyaan itu membuatku membuka hati, kalaupun aku mendapat Ibu yang baru, aku tidak akan apa-apa, asal Ayah bahagia.

Ku pandangi raut wajah Ayahku, kerutan di wajahnya semakin banyak, wajah pekerja keras itu sangat tegas, tetapi juga begitu hangat. Ayah tak pernah memperlihatkan kecemasannya padaku, dia selalu berkata "Semua akan baik-baik saja, nak."  sambil tersenyum pernuh arti.

"Chi, ada apa? Dari tadi ngeliatin wajah Ayah mulu. Kenapa? Tambah ganteng ya? hahaha." canda Ayah memudarkan kecemasanku.

"hahaha Ayah bisa aja." aku tertawa dan duduk di sebrang Ayahku.

Kusantap roti panggang dan pan cake yang ayah buat. Tak lupa ku tenggak segelas susu sapi segar bagianku. Hari ini giliran Ayah memasak, di ruang makanku terdapat papan tulis kecil lengkap dengan kapurnya untuk menjadwal giliran siapa yang memasak dan membersihkan rumah setiap harinya. Makanan yang Ayah siapkan bersih tak tersisa. Setelah itu aku berpamitan pada Ayahku.

"Yah, Chi berangkat dulu yaa.." ucapku ceria.

"Ini bekalmu, hati-hati ya Chi."

"hai, arigatou otou-san." ucapku sambil tersenyum.

Kali ini aku berangkat menggunakan sepeda, ini sepeda rakitan Ayahku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-17. Ayahku serba bisa.

"Ohayou minna-san."

"Ohayou Chi-chi." sambut Miki dengan penuh semangat di pagi hari.

"Bagaimana dengan pagimu kali ini, Chi-chan?" aku dapat menebak suara pertanyaan ini, sudah pasti ini adalah Nana sang reporter kelasku. Aku bersyukur sekelas dengan mereka di kelas 3-2 ini. Mereka berdua, Nana dan Miki adalah sahabatku sejak kelas satu. Aku menyayangi mereka, mereka hadir di saat-saat beratku.

"Pagiku menyenangkan Nana, bagaimana denganmu?"

"Luar biasa dong !" sahut Nana riang. Senyum gadis itu sangat manis.

"Nana, kemari kau! Aku mau bicara.." ucap Miki tiba-tiba. Aku tak suka dengan raut wajah itu, seperti penuh kecemasan.

"Ada apa, Miki?" tanya Nana dengan alis mengkerut.

"Semoga kejadian enam bulan yang lalu tidak terulang ya.." ucap Miki setengah berbisik, tetapi aku masih bisa mndengarnya. Entah apa yang mereka sembunyikan dariku. Enam bulan yang lalu? Musim semi? Aku tak mengerti.

"Apa maksudmu?" Nana semakin penasaran dengan kalimat Miki.

"A..ada murid baru, Na. Dan dia pindahan dari kota yang sama dengan So..ss..sora .." ucap Miki ketakutan, wajahnya berkeringat. Aku mendengar nama Sora disebut, maksudnya apa? Mengapa mereka tak mau menceritakannya?

"APA??" Nana tersentak, aku yakin ini bukan suatu kabar baik. Namun, aku tak mau mencurigai Tuhan atau takdir-Nya. Aku lelah dengan semua ini, "apa kelak aku dapat berbahagia?" pertanyaan itu muncul di keningku setiap mengingat Sora.

"Ada apa, Miki?" tanya ku hati-hati.

"Everything is gonna be okay" senyum indah Miki membuatku tenang, tetapi rasa penasaran ini membakar dada ku. Aku membalas senyum Miki, bel tanda masuk sekolah pun berbunyi. Jantung ku berdegub kencang, entah ini pertanda baik atau buruk, kali ini aku percaya pada kata-kata Miki, "Everything is gonna be okay." aku harap begitu. Aku menarik nafas sekuat tenaga dan menghembuskan perlahan, aku berusaha menenangkan diri, Miki dan Nana melirik ke belakang dengan tatapan cemas. Aku tersenyum menandakan bahwa aku baik-baik saja.

Aku yakin Miki menyimpan rahasia murid baru ini karena mengkhawatirkanku, Nana yang biasanya selalu melontarkan pertanyaan selayaknya reporter pun terdiam. "Demi apa pun, aku tidak ingin kalian seperti ini. Aku sayang kalian, tolong jangan tahan diri kalian demi aku." kata ku dalam hati.

"Wah ada murid baru yah? Seperti tahun lalu ya? Sayangnya dia meninggal, padahal baru satu hari bersekolah. Semoga tidak terulang kembali ya." bisik teman-teman ku membuat dada ku tersayat-sayat.


"Sudah ah, tidak usah dibahas. Aku takut." sahut Nana, seakan-akan ia tak mau aku mendengar percakapan itu.

"Eh itu diaa, kakkoi.. Keren banget!" seruan anak laki-laki di kelasku terdengar jelas dan lantang. Ini seperti de javu, aku yakin sekali.

“Anak-anak, diam! Akira Shigure, silahkan kenalkan dirimu." jawab sensei Hiruma Nakamori. Kebetulan Nakamori sensei menjadi wali kelasku lagi, ini benar-benar de javu.

“Nama saya Akira Shigure, saya dari Tokyo. Saya pindah kesini, karena orang tua saya pindah kerja ke kyushu, saya sekarang tinggal bersama bibi dan paman saya. Saya rasa cukup, arigatou.."

"ka..ka..a..kalimat itu." aku tersentak, seluruh kelas menengok ke arahku.

"Ada apa Ishikawa-san?" tanya Nakamori sensei.

"Daijoubu desu."

"ucapannya, caranya bicara, semuanya s.a..sa..sama"  batinku.

"Kamu siapa?" mendengar Nana bertanya seperti itu, aku yakin Nana menyadari bahwa Akira Shigure mengatakan hal yang sama dengan Sora.

"Natsuoka-san, cukup. Simpan pertanyaanmu untuk jam istirahat. Haruki-san kau duduk disamping Chiaki Ishikawa. Ishikawa-san, tolong bantu Haruki-san dalam beradaptasi.” ucap sensei.

"u..u...ucapan sensei sama seperti enam bulan yang lalu."  pikirku. Sungguh, aku yakin, aku mengingat semua kejadian tentang Sora. Aku yakin. "Bagaimana mungkin aku lupa? kejadian itu hanya berlangsung satu hari" pikiranku melantur kemana-mana.

"Ishikawa-san? Kau baik-baik saja?" tanya dengan nada keheranan, lamunanku buyar dalam sekejap.

"Ha..hai, wakarimasu." aku berdiri lalu mengangguk.

"Eeh? Tunggu dulu, tapi kan pertanyaanku belum dijawab." eyel Nana.

"Sudah, sudah. Sensei harus pergi, karena ada rapat kedinasan, jadi kalian kerjakan halaman 50. Jangan berisik! Jangan ada yang keluar kelas, okay?" jelas sensei.

"Baik sensei!!" jawab kami serentak sambil menyembunyikan senyum dan rasa kegembiraan kami. Kali ini aku merasakan kejanggalan yang luar biasa, "ini cuma kebetulan kan?"  batinku ragu.

Sensei pun keluar kelas, saat sensei menutup pintu kelas, spontanitas seluruh murid di kelas berteriak,
"YATTA!! BANZAI BANZAI BANZAIIII!!" sensei hanya bisa mengelus dada dan tersenyum tipis.

Akira Shigure mendekatiku dan berkata sambil memberi hormat (read: membungkuk),
"Ishikawa-san, hajimemashite watashi wa Akira Shigure desu. Yoroshiku onegai shimasu. Mohon bantuannya"

"Demi Tuhan, siapa kau?" Aku berdiri dan membalas hormatnya, aku tak memberikan sepatah katapun, karena aku bingung mau ngomong apa. Tersenyumpun tidak. Lalu dia duduk di sebelahku.

Aku tidak menawarkan buku catatanku seperti yang aku lakukan pada Sora, aku takut. "Tulisan Akira Shigure sama bagusnya dengan Sora. TIDAK! Mereka berbeda. Chiaki! Jangan samakan dia dengan Sora. Kau bahkan belum mengenalnya."  jengkelku pada diri sendiri. Dia terlihat keheranan, "astaga, ekspresi itu. Sungguh, aku bisa gila.."

“Ada apa Ishikawa-san?” tanyanya ragu-ragu.

“Lupakan.” Jawabku acuh.

“Emm, boleh aku memanggilmu Chiaki-san?.”

“Ya, terserah kau.”

“Kalau begitu kau panggil aku Akira, okay?”

Aku tak menjawab. Semua sama, ini de javu.

"Kau siapa?" tanya Nana tiba-tiba, kali ini ia terlihat kesal. Nana tidak mengajukan pertanyaan layaknya reporter seperti setengah tahun yang lalu.
"Apa hubunganmu dengan SORA?" pertanyaan Nana ini seperti membaca pikiranku. Ia mengajukan pertanyaan seperti mengintrogasi penjahat.

“Hei, hei, hentikan itu Nana-chan, itu akan mengganggu ketenangannya.” Ucap Miki.

Bell istirahat pun berbunyi, aku merasa terselamatkan.

"Urusan kita belum selesai, Shigure-kun!" tantang Nana.

"Nande?" Akira Shigure kebingungan.

Jelas sekali, wajah mereka berbeda. Mengapa sekumpulan kenangan itu menghantuiku lagi? Disaat aku sudah merelakan dan mensyukuri semua yang hilang di Musim Semi lalu, kini semuanya kembali.. Entah aku harus bersikap bagaimana, senang atau sedih? Semua kenangan itu tak mudah kulupakan, tetapi kembali dengan mudahnya. Mungkin, aku harus lebih berhati-hati. Sungguh, aku tidak siap untuk jatuh cinta ataupun terluka lagi.

Aku memutuskan untuk tidak mengajaknya berbicara, karena aku yakin mereka memiliki aksen yang sama. Meskipun Sora berasal dari kota Tokyo, aksen Sora, caranya berbicara. Semua terlihat berbeda dari kebanyakan orang kota lainnya. Dan dia, Akira mempunyai itu semua.

Tuesday, April 12, 2011

Pertemuan Singkat

"Hei, hei, katanya hari ini ada murid baru loh !" seru salah satu tamenku yang bernama Miki.

“Hah? Yang bener? Perempuan apa laki-laki?" temanku yang bernama Nana bertanya.

“Beneran, dia laki-laki. Cakep banget, kaya artis, katanya sih pindahan dari Tokyo." sahut Miki.

“Wah..aaa pasti asyiikk, aku mau kenalan ah..hehe" sahut Mikan sambil berkhayal.

“Hei, hei.. Diamlah, diotakmu cuma ada laki-laki ya? Dasar mesum ==“ ledek Miki.

“Sembarangan kalau ngomong! Baka Miki!!" jawab Mikan setengah marah.

“Harusnya kau memanggilku ‘onii-san’, dasar adik gak tahu sopan santun." balas Miki tak mau kalah. Aura kegelapan muncul di sekitar mereka berdua.

“Sudahlah, jangan ribut." aku mencoba mendinginkan suasana.
Chi-Chi! Chiaki-chan! jangan ikut campur!" sahut mereka kompak. (Chi-Chi adalah panggilan untukku yang diciptakan oleh Miki, sebenarnya aku agak keberatan, soalnya chichi itu bisa berarti ayah)

“okeeh terserah kalian sajalaah." aku mengembuskan nafas kencang.

Miki Yamanaka memang laki-laki yang paling up to date di kelas, dia selalu mendapatkan informasi paling awal disetiap sudut sekolah. Entah datang darimana informasi itu. Kadang hal itu tidak disukai oleh teman-temannya, karena mereka menganggap dia sok tahu. Miki dan Mikan adalah saudara kembar. Mereka selalu bertengkar. Katanya Miki lahir dua menit lebih awal dari Mikan, tetapi Mikan sama sekali enggan mengakuinya. Miki adalah teman baikku, aku lebih mengenal Miki dibandingkan Mikan.

Ah aku tidak tertarik mencari pacar, aku tak akan mendekati murid baru itu.

"Eh itu diaa, kakkoi.. Keren banget!" seruan anak laki-laki di kelasku terdengar jelas dan lantang.

“Anak-anak, diam! Sora Haruki, silahkan kenalkan dirimu." jawab sensei Hiruma Nakamori.

“Nama saya Sora Haruki, saya dari Tokyo. Saya pindah kesini, karena orang tua saya pindah kerja ke kyushu, saya sekarang tinggal bersama bibi dan paman saya. Saya rasa cukup, arigatou.."

“Hah? Berarti kamu gak tinggal bareng ortu dong?" tanya Nana.

“Iya" jawabnya singkat.

“Orang tuamu kan di Kyushu, kenapa kamu pindah ke Hokkaido? Itu kan jauh." tanya Nana lagi.

Nana Natsuoka memang perempuan yang selalu penasaran dan akan tetap penasaran sampai mengetahui kebenarannya. Memang menakutkan sih, tapi dia baik banget dan murah senyum.

"Natsuoka-san, cukup. Simpan pertanyaanmu untuk jam istirahat. Haruki-san kau duduk disamping Chiaki Ishikawa. Ishikawa-san, tolong bantu Haruki-san dalam beradaptasi.” ucap sensei.

"Hai, wakarimasu." aku berdiri lalu mengangguk.

"Eeh? Tunggu dulu, tapi kan pertanyaanku belum dijawab." eyel Nana.
"Sudah, sudah. Sensei harus pergi, karena ada rapat kedinasan, jadi kalian kerjakan halaman 50. Jangan berisik! Jangan ada yang keluar kelas, okay?" jelas sensei.

"Baik sensei!!" jawab kami serentak sambil menyembunyikan senyum dan rasa kegembiraan kami.

Sensei pun keluar kelas, saat sensei menutup pintu kelas, spontanitas seluruh murid di kelas berteriak,
"YATTA!! BANZAI BANZAI BANZAIIII!!" sensei hanya bisa mengelus dada dan tersenym tipis.

Sora Haruki mendekatiku dan berkata sambil memberi hormat (read: membungkuk),
"Ishikawa-san, hajimemashite watashi wa Sora Haruki desu. Yoroshiku onegai shimasu. Mohon bantuannya"

Aku berdiri dan membalas hormatnya sambil tersenyum, aku tak memberikan sepatah katapun, karena aku bingung mau ngomong apa. Lalu dia duduk di sebelahku.

Pelajaran kosong bukanlah hal yang membosankan bagi anak kelas 2-1 Horikoshi Gakuen, karena di pelajaran kosong inilah mereka bisa melakukan apa yang mereka mau. Bukan berarti mereka lalai terhadap tanggung jawab mereka dalam belajar. Mereka mengerjakan tugas yang di berikan sensei Hiruma Nakamori terlebih dahulu. Sensei Nakamori tidak pernah memberikan tugas yang berat, semua pelajaran yang diberikannya sangat mengasikan. Walaupun beliau sedikit galak, kami sama sekali tidak takut padanya, bahkan senang jika beliau marah. Karena beliau tidak pernah marah sungguhan pada kami. Suasana hening terjadi selama kurang lebih 15 menit, tugas dari sensei pun telah kami kerjakan.
Aku hendak memamerkan tulisanku yang bagus ini kepada Sora Haruki, agar dia tahu bahwa tulisanku paling bagus di kelas 2-1.

"Ini catatanku, kalau mau pinjem silahkan saja." jawabku sambil tersenyum kecut. aku adalah sekertaris di kelas 2-1, tak heran bahwa tulisanku bagus, dan aku bangga akan hal itu.

"Arigatou ne~ Ishikawa-san, ini sangat membantuku." senyumnya yang keren melebar. Aku melirik buku yang tergeletak di mejanya.

"Astaga, tulisannya bangus banget. Ini sih jelas aku kalah. ah masa aku dikalahkan oleh laki-laki sih? Enak saja." batinku, tanpa membalas senyumannya aku membuang muka. Dia terlihat keheranan.

“Ada apa Ishikawa-san?” tanyanya ragu-ragu.

“Ah, tidak apa apa. Lupakan.” Jawabku acuh.

“Emm, boleh aku memanggilmu Chiaki-san?.”

“Ya, terserah kau.”

“Kalau begitu kau panggil aku Sora, okay?”

Aku tak menjawab.

“Sora Haruki, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untukmu!” seru Nana tiba-tiba, layaknya reporter, dia membawa sisir gulung yang dianggapnya sebagai mike. Setelah Nana menghampiri Sora, teman-teman pun mengerubunginya, layaknya semut mengerubungi gula.

“Hei, hei, hentikan itu Nana-chan, itu akan mengganggu ketenangannya.” Ucap Miki.

”Aku sedikit iri, mengapa dia menjadi pusat perhatian?” aku menggerutu dalam hati. Aku ingin sekali hari ini cepat berakhir. Aku memang bukan termasuk orang yang cepat akrab dengan orang baru kutemui, aku tipe orang yang tertutup.

Bell istirahat pun berbunyi, aku merasa terselamatkan. Aku membuka bekal makanan yang aku buat tadi pagi, aku tinggal berdua dengan ayahku, tentunya aku harus bisa memasak. Orang tua ku bercerai ketika aku masih berumur 5 tahun, karena sesuatu hal yang tidak aku mengerti. Sekarang umurku 16 tahun. Mengapa mereka bercerai? Bukankan mereka sudah berjanji satu sama lain? Aku mempunyai seorang kakak laki-laki, dia sangat baik dan menyayangiku. Namun, ia ikut dengan ibu, katanya ia tidak tega membiarkan ibu sendirian. Jarak usiaku dan kakak lima tahun. Ibu ku juga orang yang baik, aku sangat menyayanginya. “aaaah, lupakaan! Mengapa aku mengingat masa-masa suram itu.” batinku sambil menggelengkan kepala, aku pun melanjutkan makan siangku.

“Doushite? Ada yang kau pikirkan Chiaki-san?” tanya Sora membuyarkan lamunanku.

“Ah, aku tak apa.” jawabku singkat.

“Hei, kau ini sebenarnya kenapa sih? Dari tadi jutek mulu.” Sahutnya setengah marah. Aku mengacuhkannya.

“Nanti pulang sekolah anterin aku keliling sekolah ya, soalnya sekolah ini besar sekali.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku enggan mengakui ini, tetapi senyumannya memang cakep. “Ah apa sih yang aku pikirin?” batinku. Aku pun menjawab dengan nada kesal,

“Ajak saja yang lain, aku malas.”

“Kau kan yang ditunjuk sensei, mau lari dari tanggung jawab ya? Dasar..”

“Enak saja, maaf ya, tapi aku bukan tipe orang yang kaya gitu.” Jawabku kesal.

“Lalu apa kalau bukan lari dari tanggung jawab?”

“Okaaay okay, aku akan mengantarmu keliling. Puas kan? Sekarang jangan ajak aku bicara.” Tanpa sadar aku memarahinya

“Astaga, mengapa aku jadi begini? Semoga aku gak keliatan salah tingkah. Aku deg-degan waktu bicara dengannya, makanya aku ingin dia pergi.” Batinku.

“Murid-muridku yang kami banggakan, maaf atas ketidaknyamanan ini. Berhubung rapat dinas ini sangat penting dan memakan waktu yang cukup lama, kalian belajar dirumah. Maaf atas ketidakefisienan ini, saya sebagai wakil kepala sekolah, mewakilkan para guru untuk mohon maaf sebesar-besarnya. Arigatou gozaimasu.”

Keheniangan terjadi beberapa saat. Lalu, serentak murid-murid di Horikoshi Gakuen berteriak kencang, bertepuk tangan, mata mereka berbinar-binar seperti anak kecil yang habis dibelikan balon oleh orangtuanya.

“Chiaki-chaan, tepati janjimu.” Ledek Sora.

“Baiklah.”


Aku mengantarnya berkeliling kira-kira satu jam, sekolah ini memang sangat luas, aku yang sudah dua tahun bersekolah disini saja masih sering kesasar. Semua ruangannya dilengkapi oleh AC, kapur dan papan tulis serta penghapusnya, meja kursi (kecuali ruang olahraga), dan alat-alat seperlunya sesuai mata pelajaran. Entah mengapa aku merasa nyaman saat berdampingan dengan Sora Haruki, padahal dia orang yang baru aku temui.

“Sankyuu Chiaki-chan. Kau sangat membantuku.” Ucapnya gembira.

“Emm.” Aku hanya menggumam gak jelas.

“Sudah larut, aku antar kau pulang ya?”

“Gak usah, aku bisa sendiri kok.” Tolakku dengan tegas.

“Hei, ayolah. Aku gak enak sama keluarga mu, gara-gara aku kau pulang jam segini. Lagian kau ini perempuan, gak baik pulang larut sendirian.” Paksanya

“Tenang, ini bukan Tokyo. Hokkaido tidak seperti Tokyo, orang-orangnya baik kok.” Sahutku.

“Iya iya aku tahu, tapi tetep aja gak enak. Masa ada sih laki-laki cakep seperti aku yang ngebiarin perempuan pulang sendirian?” candanya.

“Emang kamu cakep ya?” ledekku.

“Sudahlah, ayo tunjukkan dimana rumahmu!” ucapnya kesal.

Dalam perjalanan kami ngobrol panjang lebar, aku gak menyangka akan cepat akrab dengan laki-laki yang baru aku kenal. Banyak yang dia tanyakan padaku, aku hanya menjawab seperlunya. Sesekali kami bercanda. Andai waktu bisa berhenti sekarang, khayalanku terlalu bodoh. Tanpa sadar kami tiba di rumah ku.

“Kita sudah sampai, ini rumahku. Arigatou” tanpa sadar senyumku melebar. karena malu, aku langsung memalingkan muka.

“Iie, douitashimashite” jawabnya dengan riang.

“Tadaima” ucapku sambil membuka pintu.

“Okaeri” jawab ayah dari dalam.

“Siapa dia? Gak biasanya kau membawa laki-laki selain Miki” tanya ayahku dengan nada curiga. Ya memang ak sering mengajak Miki main ke rumahku, itu juga bertiga dengan Nana. Kita bertiga memang bersahabat sejak aku masuk SMA, mereka berdua adalah teman pertamaku.

“Miki? Miki Yamanaka maksudmu?” tanya Sora dengan wajah kesal.

“Iya, siapa lagi?” balas ayahku sambil mendelik seperti macan yang hendak melindungi anaknya.

“Sudahlah, kalian ini kenapa sih?” leraiku kesal.

“Maafkan saya, nama saya Sora Haruki. Maaf atas keterlambatan putri anda, ini semua salah saya. Dia mengantar saya berkeliling sekolah.” Jelas Sora panjang lebar.

“Yasudahlah.” Jawab ayah singkat.

“Saya permisi.” Sahut Sora.

“Emm” gumam ayahku.

“Hari yang melelahkan” batinku, aku langsung berganti pakaian dan memasakkan telur dadar buat ayahku.

“Maaf yah, Chi cuma masak telur. Chi cape banget.” Ucapku dengan nada bersalah.

“Tidak apa apa Chi, lebih baik kau istirahat saja. Ayah juga masih banyak kerjaan.” Balas ayah menenangkanku.

“Baik yah.”

Aku menutup mataku dan menenggelamkan pikiranku ke dunia mimpi.



Kukuruyuuuk kukukurrruuyuuuk ! suara jam bekerku berbunyi, aku lekas bangun, lalu menggosok gigi dan berganti pakaian. Orang jepang jarang mandi pagi, mereka mandi setelah pulang sekolah atahu kerja, apalagi ini musim semi, jadi aku tak akan banyak berkeringat. “Entah mengapa hari ini aku sangat bersemangat, apa jangan jangan..ahh lupakan” gumamku tak jelas.

Sesampainya di sekolah, mataku berkeliaran seperti macan yang mencari makanan. Namun, makanan itu tak kutemukan juga. Karena penasaran, aku pun bertanya pada Miki.

“Sora Haruki bolos ya? Padahal ini kan hari keduanya sekolah, niat engga sih..ckck” tanya ku dengan nada mengejek, agar rasa cemasku tak diketahui teman-teman.

“Chi-chi, kau jangan bicara sembarangan. Dia tertabrak mobil kemaren malam, keadaannya sangat kritis.”

Kakiku lemas, dadaku sakit. Kemaren malam kan dia mengantarku pulang, padahal kemaren dia baik-baik saja. Jadi, ini semua salahku? Tubuhku hilang keseimbangan, kakiku tak mampu menopang tubuhku ini. Setelah itu aku tak ingat apa pun.

“Auw, kepala ku sakit.” Kupegangi kepalaku sambil melihat sekelilingku.

“Kau sudah siuman ya?” tanya Nana dengan wajah khawatir.

“Ini dimana Na? mengapa aku disini? Apa yang terjadi padaku?”

“Ini diruang kesehatan, kau pingsan saat mendengar Haruki-san kecelakaan.”

Aku tak menjawab apa pun, apa yang harus aku katakan?


“Aku tahu kau pasti kaget, ini.. kau harus membacanya” Nana menyerahkan buku kecil seperti buku harian, aku mengulurkan tanganku.

“Apa ini? Milikmu?”

Nana menggeleng dan menjawab, “Haruki-san..itu milik Haruki-san, kau harus membacanya”


Dear diary,
Hahaha apa yang aku pikirkan? Aku kan laki-laki, ngapain beli buku diary segala. Biarlah, aku ingin menyimpan kenangan masa kecilku. Ini pengalaman yang memalukan, tetapi sangat berharga buatku. Kejadian itu terjadi saat musim semi enam tahun yang lalu.
Saat itu keluargaku sedang berkunjung ke Hokkaido, tepatnya rumah paman dan bibi. Karena itu adalah pertama kalinya aku ke Hokkaido, aku pun tersesat, aku menangis. Rasa panik mulai merasukiku, aku tak melihat ada batu besar di hadapanku, aku pun terjatuh. Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli walaupun aku itu laki-laki.
“hei, kau tak apa?” aku mendengar suara gadis kecil. Aku mendongak keatas, ternyata ada gadis kecil yang melihatku dengan cemas.
“mana yang luka?” tanyanya sekali lagi.
Aku menggeleng dan mengusap air mataku. Aku melihatnya sedang mencari sesuatu di kantong bajunya.
“ah ini dia” ucapnya sambil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
“lukamu harus dibersihkan, biar gak infeksi.” Ucapnya sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk, dia membersihkan lukaku dengan cermat. Aku tak bisa berkata-kata, gadis kecil itu sangat manis. Dia mengenakan rok terusan selutut, rambutnya yang pendek dikucir dua, seperti boneka saja. Setelah lukaku bersih, dia kembali mencari sesuatu di sakunya.
“ah ini dia” dia mengeluarkan hansaplas dan menempelkannya pada lukaku.
“sudah ya, kau jangan menangis. Kau kan laki-laki.” Dia pergi dan tersenyum.
“emm, siapa namamu?” mungkin itu pertama kalinya aku mengeluarkan suara.
“aku? Orang-orang memanggilku ‘Chi’ . sampai jumpa” dia pergi sambil tersenyum. Ah sapu tangannya tertinggal. Aku akan menyimpannya.
Itulah cinta pertamaku, sekarang aku sudah berumur 16 tahun. Aku ingin menemuinya.

Kalau gak salah kejadian itu kan bertepatan dengan hari dimana aku mengetahui penyebab perceraian orang tuaku. Aku lari dari rumah, entah mengapa aku lari, aku bahkan tak mengerti alasanku lari. Saat itu usiaku masih 10 tahun, yang aku tahu mereka bertengkar karena aku. Tiba-tiba langkahku terhenti, mataku tertuju ke satu titik. Disana ada anak seumuranku, “mengapa dia menangis? Aku tak ingin ada yang menangis” batinku. Lalu tanpa pikir panjang, aku pun menolongnya.


Aku membuka halaman berikutnya di diary itu.


Hei diary,
Menyebalkan, mengapa ayah tak memberiku ijin ke Hokkaido? Aku kan ingin bertemu dengannya. Tekatku sudah bulat. Resikonya aku harus meninggalkan teman-temanku di SMA ini. Padahal mereka teman yang asik.


Isi buku harian ini semuanya tentang aku. Ku buka halaman terakhir buku itu.


Diary,
Akhirnya aku satu sekolah dengan “CHI” , aku sangat merindukannya. Sikapnya sekarang berubah ya, agak jutek. Namun, aku tetap senang. Aku harus mendekati dan mendapatkan hatinya.
Waah, senyumnya indah sekali. Hari ini sangat menyenangkan. Mataku selalu memandangnya, tak satu detikpun aku melepaskan pandanganku darinya.
Aku mendapatkan kesempatan mengantarnya pulang. Wah ayahnya galak juga ya.. tadi ayahnya menyebut nama Miki kan? Apa hubungan Miki dengan Chi? Sepertinya Miki akrab sekali dengan ayahnya. Aku cemburu.
Oh iya, kalau tidak salah Miki memberikan nomer ponselnya. Aku akan menelponnya.


“Kata Miki-chan, Haruki-san bertanya dengan nada setengah marah. Dan ..” penjelasan Nana membuatku semakin terkejut. Sora, dia tertabrak mobil saat menelpon Miki dan itu semua karena aku. Setelah mendengar penjelasan itu, tanpa pikir panjang aku berlari menuju rumah sakit.

“Hei Chi-chan, kau mau kemana?” tanya Nana setengah teriak, karena dia tahu, sekeras apapun dia bicara, aku tak akan mendengarnya.

“Aku mohon, jangan pergi. Aku bahkan belum menyampaikan perasaanku. Aku mohon, bertahanlah.” Gumamku kacau.

Jarak rumah sakit lumayan jauh dari sekolahku, tetapi aku tak peduli. Aku terus berlari, aku ingin melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya.

“Suster, kamar Sora Haruki, korban kecelakaan tadi malam, di ruang berapa?” tanya ku dengan nada kacau, semoga suster itu mengerti apa yang aku katakana.

“Di kamar 105, tetapi..” ucap suster, aku tak peduli kata-kata selanjutnya yang akan dia katakan. Aku berlari menuju kamar 105.

Ini dia kamarnya, kaki ku melemas melihat orang-orang itu hendak membawa Sora. Sora terbaring kaku di tempat tidur.

“Hei, hentikan! Sora mau dibawa kemana? Biarkan aku bicara dengannya. Aku mohon. Dokter, aku mohon.”

Dokter itu hanya memalingkan mukanya, dia menutup wajah Sora dengan kain putih. Aku berteriak dan menangis.

“Kalian apakan Sora? Aku mohon, dia belum meninggal. Aku mohon, jangan bawa dia pergi.” Tak satupun orang melihatku, sepertinya mereka ridak tega. Salah satu suster menenangkanku. Aku memberontak. Aku tidak mau berpisah dengannya.

“Aku mohon dok, izinkan saya menyampaikan kata-kata terakhir untuknya. Aku mohon..” ucapku setelah diriku tenang. Aku mendekati jazadnya yang kaku.

“Bodooh, aku menyukaimu. Sora, kau tega. Kita kan baru saja bertemu..”

“Dok, izinkan kami sendiri.”

Dokter hanya mengangguk dan meninggalkan kamar nomor 105.

“Kalau saja kau tidak menyusulku ke Hokkaido, kau pasti selamat. Ini semua gara-gara aku..aaaaaa” aku menangis dan menangis. Aku tahu, dia tak dapat mendengarku lagi. Wajahnya pucat, kugenggam tangannya. Dingin, dingin sekali tangannya. Aku terus bergumam, mengungkapkan semua yang ingin aku katakan.


Sore harinya Sora Haruki dimakamkan. Orang tuanya kaget mendengar itu, mereka menangis. Sora Haruki adalah anak mereka satu-satunya. Namun, mereka tak sedikitpun menyalahkan aku. Itu semakin membuatku bersalah. Entah aku bisa menjalani kehidupanku seperti biasa atau tidak.

Aku melanjutkan hidupku. Namun, semuanya tidak kujalani seperti biasa. Rasanya aku ingin menyusulnya. Aku mengurungkan niatku untuk bunuh diri dan memulai membaca buku harian Sora. Di bagian belakang buku itu ada gambar. Gambarnya kacau, tak beraturan. Ada gambar perempuan, laki-laki, dan anak laki-laki. Disitu bertuliskan,




“aku, Chi, dan anak kami di masa mendatang :)
ITSU MADE MO KAWARANAI”